Cari, Download, Beres!

[Download PDF] KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana)



Perbedaan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) dengan KUHAP ( Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana).

KUHP itu berisi  mengeai pasal-pasal atau peraturan yang mengatur tentang hukuman apa yang di terima oleh seseorang jika melakukan suatu tindak pidana.

Sedangkan KUHAP itu mengatur tata cara atau pelaksaan seseorang yang tersagkut kasus hukum pidana.

Misalya jika undang-undang yang mengatur termasuk kedalam KUHP maka tata cara yang ada di pengadilan termasuk kedalam KUHAP. 

[Download PDF] Kitab Rohmatul Ummah Fi Ikhtilafil A'immah


Judul kitab : Rohmatul Ummah Fi Ikhtilafil A'immah
Penulis : Abu Abdillah Muhammad bin Abdurrohman Ad-Damasyqi Asy-Syafi'i
Muhaqqiq : Ibrohim Amin Muhammad
Penerbit : Maktabah At-Taufiqiyah
Cetakan : -
Tahun terbit : -


[Format MS. Word] Manzhumah al-Baiquniyyah: Matan dan Terjemah


Judul Asli:

المَنْظُومَة البَيقُونِيَّة

Penulis:

عمر (أوطه) بن محمد بن فتوح البيقوني الدمشقي الشافعي (المتوفى: نحو 1080هـ)

Penerbit Asli:

دار المغني للنشر و التوزيع

الطبعة الأولى 1420هـ - 1999م

Edisi Terjemah:

Manzhumah al-Baiquniyyah: Matan dan Terjemah

Penerjemah:

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Penerbit Terjemahan:

Pustaka Syabab Surabaya



***



MUQADDIMAH PENERJEMAH


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Alhamdulillah telah selesai penggarapan terjemah kutaib (kitab kecil) dari matan Manzhumah Al-Baiquniyyah yang dikarang oleh Imam al-Baiquni rahimahullah. Kutaib ini berisi sekitar 32 istilah hadits yang dinamakan Mustahalah Hadits. Untuk itu disiplin ilmu ini disebut ilmu Musthalah karena membahas tentang istilah-istilah hadits. Semua istilah ini beliau himpun dalam 34 bait syair. Sungguh mengagumkan. Oleh karena keunggulan kutaib ini, para ulama menganjurkan untuk dipelajari dan dihafal.  

Jumlah keseluruhan 32 macam ini adalah hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

[Download PDF] Terjemah Mustalah Hadits

Ilmu Mustholah Hadis ialah ilmu usul dan metode-metode untuk mengenali kondisi Sanad dan Matan apakah ia dapat diterima atau ditolak.

Ilmu Hadis dibagi menjadi dua bagian yaitu:

Ilmu Hadis Riwayah dan Ilmu Hadis Dirayah.

1. Ilmu Hadis Riwayah:

Ilmu Hadis Riwayah adalah ilmu yang memfokuskan pada transfer kata-kata Nabi saw, perbuatan, riwayat, perawatan dan penulisannya.

2. Ilmu Hadis Dirayah:

Ilmu Hadis Dirayah adalah ilmu yang membantu kita untuk mengetahui hakikat riwayat, kondisi, bagian-bagian serta hukum-hukumnya. Begitu juga ia membantu kita mengetahui kondisi perawi, kondisi perawi dan hal-hal yang terkait dengannya.

[Download PDF] Terjemah Kitab Ihya’ul Mayyit fii Fadhilati Ahlul Bayt


Segala puji bagi Allah swt, Rabb yang memberi petunjuk dan yang menampakkan kebenaran kepada hambanya. Shalawat keberkahan dan salam atas nabi mushthofa khotamin nabiyyin Muhammad bin 'Abdullah, serta kepada seluruh keluarga, dzurriyyat dan para sahabatnya.

Allah berfirman : "Sesungguhnya telah datang seorang Rasul dari kaum ( golongan )mu sendiri, berat serasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan ( keimanan dan keselamatan ) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang Mu'min (QS.9:128)". Dan firman Allah : "Boleh jadi kamu (Muhammad saw)
akan menyengsarakan dirimu sendiri karena mereka tidak beriman (QS.26:3) Dan masih banyak firman Allah swt tentang Muhammad saw serta keutamaan-keutamaannya. Amma ba'du

Apa dan Siapa Ahlul Bayt ?

Kata ahlul bayt menurut arti bahasa adalah Al Qorib wal 'Asyirah yaitu family dan keluarga terdekat bisa juga termasuk istri. 

[Download PDF] Matan Alfiyah Ibnu Malik




Matan Alfiyah Ibnu Malik - Nama Alfiyah Ibnu Malik tentu tidak asing lagi di telinga Anda. Matan Alfiyah merupakan salah satu buku kuning yang diajarkan di pesantren-pesantren salafiyyah dan bahkan dihafal, terutama pesantren yang fokus mendidik santri-santrinya ilmu-ilmu alat, baik Nahwu atau Sharaf.

[Download PDF] Kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah (Shorof)


Shorof menurut bahasa adalah berubah atau mengubah. Mengubah dari bentuk aslinya kepada bentuk yang lain.

Adapun menurut istilah, shorof adalah berubahnya bentuk asal pertama yang berupa fi’il madhi, menjadi fi’l mudhori, menjadi mashdar, isim fa’il, isim maf’ul, fi’il amr, fi’il nahi, isim jaman, isim makan sampai isim alat.

Maksud dan tujuan dari perubahan ini adalah agar memperoleh makna atau arti yang berbeda. Dari perubahan satu bentuk ke bentuk lainnya di dalam ilmu shorof dinamakaan shighot.

Dari hal ini, ilmu yang mempelajari berbagaii macam bentuk perubahan kata, asal usul kata atau keadaannya dinamakan dengan ILMU SHOROF.

Perbedaan yang mendasar antara shorof dan nahwu secara gampangannya adalah klo shorof untuk membaca kitab atau tulisan yang gundul, sedangkan nahwu untuk mengetahui makna dari kitab gundul tersebut. Sehingga antara nahwu dan shorof tidak boleh dipisahkan dalam penggunaannya.

[Download PDF] Cara Membuat Aplikasi Android dengan Eclipse dan Netbeans


Siapa yang tidak kenal dengan Android, sistem operasi milik perusahaan raksasa Google ini telah menjadi pemain utama teknologi berbasis mobile. Seperti kita ketahui perkembanagn teknologi mobile semakin tumbuh dari hari ke hari. Android sebagai platform paling populer saat ini banyak dilirik oleh pengembang. Sehingga banyak sekali pengembang yang sukses dengan aplikasi buatan mereka termasuk pengembang dari Indonesia.

Salah satunya adalah dengan menggunakan software yang bernama Eclipse dan Netbeans yang mana penjelasan dan tutor yang lebih lengkap kami bawakan dalam bentuk PDF di link di bawah ini.

[Download PDF] Tutorial Membuat APK Android dengan Android Studio



Android studio adalah lingkungan pengembangan terpadu(IDE) resmi untuk pengembangan platform android,hal itu disampaikan pada tanggal 16 mei 2013 Google I/O,android studio sudah tersedia secara bebas dibawah lisensi Apache 2.0. 


Android studio pada awalnya tahap preview versi 0.1 yang dipakai pada tanggal 1 mei 2013 dan memasuki tahap beta pada bulan juni 2014 dan mulai stabil dirilis pada Desember 2014 dengan versi 1.0 ,berdasarkan jetBrains ‘IDEA Intellij Software,android studio dirancang khusus untuk pengembangan android yang tersedia untuk Windows,Mac OS X dan Linux sebagai pengganti Eclipse .

[Download PDF] KUHP Perdata (BW)

KUHP Perdata
Yang dimaksud dengan Hukum perdata Indonesia adalah hukum perdata yang berlaku bagi seluruh Wilayah di Indonesia. Hukum perdata yang berlaku di Indonesia adalah hukum perdata barat Belanda yang pada awalnya berinduk pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang aslinya berbahasa Belanda atau dikenal dengan Burgerlijk Wetboek dan biasa disingkat dengan B.W. Sebagian materi B.W. sudah dicabut berlakunya & sudah diganti dengan Undang-Undang RI misalnya mengenai UU Perkawinan, UU Hak Tanggungan, UU Kepailitan.

Pada 31 Oktober 1837, Mr.C.J. Scholten van Oud Haarlem di angkat menjadi ketua panitia kodifikasi dengan Mr. A.A. Van Vloten dan Mr. Meyer masing-masing sebagai anggota yang kemudian anggotanya ini diganti dengan Mr. J.Schneither dan Mr. A.J. van Nes. Kodifikasi KUHPdt. Indonesia diumumkan pada tanggal 30 April 1847 melalui Staatsblad No. 23 dan berlaku Januari 1948.

Setelah Indonesia Merdeka berdasarkan aturan Pasal 2 aturan peralihan UUD 1945, KUHPdt. Hindia Belanda tetap dinyatakan berlaku sebelum digantikan dengan undang-undang baru berdasarkan Undang – Undang Dasar ini. BW Hindia Belanda disebut juga Kitab Undang – Undang Hukun Perdata Indonesia sebagai induk hukum perdata Indonesia.

[Download PDF] Metode Pembelajaran PAI Berbasis Multiple Intelligences


Pendidikan Agama Islam sudah banyak dibahas dalam buku-buku diktat kuliah, atau buku-buku pendukung menuju sarjana pendidikan. Akan tetapi ketika kita lihat bahwa pendidikan Islam di Indonesia ini tidak semakin maju, yang ada malah terjadinya kemunduran terus menerus. Jika kita bisa melihat dan merenungkan sejenak, kenapa hal semacam ini bisa terjadi? Apa yang salah dari Pendidikan Agama Islam? Haruskah Pendidikan Islam terbelakang dan tidak diminati oleh para peserta didik? Tentunya setiap diri dari kita memiliki jiwa pendidik. Dan ketika kita melihat hal ini terbayang jawaban-jawaban atas pertanyaan tadi. Akan tetapi, sudah cukupkah semacam itu? Muncul ide yang kami ambil dari ilmu Psikologi tentang kecerdasan manusia. Yaitu teori Multiple Intelligences.

[Download PDF] Melirik Menu Makan Rasulullah SAW


Sudah banyak buku-buku tentang sejarah Rasulullah saw, yang menceritakan kehidupan Rasulullah saw dari lahir hingga wafatnya beliau. Dari kehidupan yang tak ada ujungnya bila kita bahas ini, kami melihat adanya cerita kecil yang jarang tersentuh dan terlihat pada kehidupan Rasulullah saw. Yaitu, menu makan Rasulullah saw.

[Download PDF] Akhlaqul Lil Banin Jilid 1 & 2 + Makna Gandul + Terjemah



Akhlaqul Lil Banin adalah sebuah kitab akhlaq kecil yang terdiri dari beberapa bab kitab ini disusun oleh Al Ustadz Umar Achmad Baraja , dengan bahasa arab yang mudah diterjemahkan baik secara inayah maupun lafdziyah, selain mudah diterjemahkan kitab ini juga mudah dicerna isinya, karena bahasanya yang sesuai dengan peruntukannya. Sebagaimana namanya, kitab ini diperuntukkan untuk anak laki-laki (lil banin).

Download lewat PC
 Atau
Download - Akhlaqul Lil Banin Jilid 2 Terjemah (Masih diusahakan)

Download lewat HP
 Atau
Download - Akhlaqul Lil Banin Jilid 2 Terjemah (Masih diusahakan)

[Download PDF] Kitab Al-Iqna' Fi Hall Alfaz Abi Syuja'


Kitab  al-Iqna' fi Hal Alfaz Abi Syuja' ( الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع ) merupakan sebuah kitab fiqh mazhab al-Syafi'i  yang terkenal di kalangan ulama mazhab al-Syafi'i yang mutaakhir. Kitab ini adalah hasil karya al-Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-Khathib al-Syarbiniy (977H) sebagai huraian (syarah) bagi sebuah matan fiqh yang terkenal, iaitu Matn al-Taqrib atau terkenal dengan nama Matn Abi Syuja'  sempena nama pengarangnya al-Qadhi Abu Syuja’, Syihabuddin Ahmad bin al-Hasan bin Ahmad al-Ashbahani(533-593H).

Berdasarkan beberapa edisi Arabnya, kitab ini mempunyai dua juz, yang digabungkan dalam sebuah buku.

Kitab al-Iqna’ ini menjadi kitab standard bagi kebanyakan pusat pengajian Islam sama ada peringkat menengah maupun peringkat pengajian tinggi di universiti-universiti di Timur Tengah. Di Malaysia, ia dijadikan teks pengajian fiqh Syafi’iyyah di pondok-pondok.

Saya dapati kitab ini ada diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan diterbitkan oleh Syarikat Perniagaan Jahabersa. Sebagaimana edisi Arabnya, kitab terjemahan ini juga mempunyai dua juz yang digabungkan dalam sebuah buku yang agak tebal, iaitu 1082 halaman.
Download Link (downlaod lewat PC):

[Download PDF] Kitab Tafsir Ayat Ahkam - Syekh Abdur Qodir Syaibatul Hamdi

 
Judul kitab : Tafsir Ayat Al-Ahkam

Penulis : Syekh Abdur Qodir Syaibatul Hamdi

Muhaqqiq : -

Penerbit : Maktabah AlAbikan, Riyadh - Arab Saudi

Cetakan : Pertama

Tahun terbit : 2006

Link download (PDF) : Klik disini (download lewat PC)
Klik disini (download lewat HP)
[Download PDF] Terjemah Kitab Ibanatul Ahkam - 4 Juz

[Download PDF] Terjemah Kitab Ibanatul Ahkam - 4 Juz

Ibanatul-ahkam-1-500x500 
Kali ini ane akan share link download kitab Ibanatul ahkam, yang dimana kitab ini merupakan syarah atau penjelasan atas kitab Hadis Bulughul Maram yang disusun oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-'Asqolani. Kitab ini membahas Hadis tentang IBADAH dan MU'AMALAH. 
Bagi yang belum tahu kitab ini bisa langsung saja cari tahu, tinggal download dan tela'ah. Kitabnya terjemahan ke bahasa Indonesia, jadi mudah dimengerti. Apalagi kalau kita kebingungan terhadap permasalahan yang kita hadapi, harus seperti apa dan harus bagaimana, bagaimana dalilnya dan sebagainya. Melalui kitab ini kita belajar hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah Ibadah, mulai dari wudlu, shalat, shaum, zakat dan sebagainya sampai ke mu'amalah atau bagaimana kita mestinya berkeseharian. Ok langsung saja download dibawah ini.
[Download PDF] Kitab Syarah Fathul Qorib + Makna Pego

[Download PDF] Kitab Syarah Fathul Qorib + Makna Pego


Hasil gambar untuk download kitab fathul qorib 

Karya:
Syaikh al-Imam  Muhammad bin Qasim Al Ghozy Asy-Syafi’i.

Kitab ini adalah kitab Fikih yang sangat masyhur, terutama di kalangan pesantren, karena kitab ini menjadi salah satu referensi pembelajaran di pesantren-pesantren. Kitab yang ringkas namun padat ini adalah karya Syaikh al-Imam al-Alim al-Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Asy-Syafi’i.

Kitab ini memuat berbagai persoalan fikih terkait banyak hal. Berikut garis besar isinya membahas: Hukum-hukum bersuci, hukum-hukum shalat, hukum-hukum zakat, hukum puasa, hukum haji, hukum jual beli dan berbagai transaksi lainnya.

Hukum-hukum pembagian waris dan wasiat, Perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, hukum-hukum jinayat, berbagai macam hukum Had {hukuman}, Hukum-hukum Jihad, hukum-hukum buruan sembelihan dan makanan, hukum sumpah dan nadzar, hukum peradilan dan persaksian, dan hukum-hukum memerdekaan budak.
Dan di Tj e-booK ini kami hadirkan kitab asli (arab) dengan makna ala pesantren dengan harapan ikut melestarikan kitab klasik ini, dan bisa bermanfaat bagi kita semua.

[Download PDF] Audlohul Mawahib - Jawaban Berbagai Kemusykilan Kitab Fathul Qorib


Bagi pelajar fiqh Syafi'i, kitab al-Ghayah wa at-Taqrib atau yang lebih dikenal kitab Matan Taqrib merupakan kitab yang tidak asing lagi. Kitab ini menjadi kitab kurikulum bagi para pemula pelajar fiqh Syafi'i. Kitab ini merupakan kitab kecil yang lengkap mulai dari bab Thaharah hingga `itq. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama Syafi'iyah yang hidup pada abad ke-5 H.

Beliau adalah Ahmad bin al-Husen bin Ahmad al-Asfahaniy yang terkenal dengan panggilan al-Qadhi (Hakim) Abu Syuja'. Beliau juga mendapat gelari (kun-yah) Abu Thayyib. Beliau belajar fiqih Syafi'i di Basrah lebih dari 40 tahun.[1]

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun kelahiran dan wafat beliau. Salah seorang murid beliau Imam Ahmad bin Muhammad Abu Thahir as-Silafy (w. 576 H) dalam kitabnya Mu`jam Safar menuliskan bahwa beliau pernah menanyakan kepada Abu Syuja` sendiri tentang tahun kelahiran beliau, Abu Syuja` menjawab tahun 434 H di Basrah, sedangkan ayah beliau lahir di `Abbadan dan kakek beliau lahir di Asfihan/Isfahan (kota di Iran yang terletak sekitar 340 km dari ibu kota Iran, Taheran).[2] Keterangan tersebut juga dikutip oleh Imam Yaqut bin Abdullah al-Hamawi dalam kitab beliau Mu`jam Buldan ketika menerangkan tentang negeri `Abbadan.[3] Dalam kitab tersebut tidak disebutkan tahun wafat beliau.

Sedangkan dalam kitab A`lam karangan Zarkali disebutkan beliau lahir tahun 533 H/1138 M dan wafat pada tahun 593 H/1197 M,[4] maka umur beliau berdasarkan keterangan ini adalah hanya 60 tahun. Hal sangat bertentangan dengan keterangan dalam Kitab Hasyiah al-Bajuri dan Hasyiah Bujairimi `ala Khatib yang menerangkan bahwa beliau memiliki umur panjang hingga 160 tahun. Dan keterangan ini juga sangat menentang dengan keterangan murid beliau sendiri Imam as-Silafi dalam kitab Mu`jam Safr, dimana beliau menyebutkan bahwa Abu Syuja` sendiri pada tahun 500 H menyebutkan kepadanya bahwa beliau sudah mempelajari fiqih Mazhab Syafi'i selama 40 tahun lamanya, setelah itu Imam as-Silafi menyebutkan bahwa Abu Syuja` masih hidup hingga masa yang tidak beliau ketahui.

Ada kemungkinan bahwa keterangan kitab al-A`lam karangan Zarlaki yang dikutip banyak penerbit yang menuliskan biografi Abu Syuja` ketika menerbitkan kitab Matan Taqrib, terjadi kesalahan ketika penulisan, mungkin yang sebenarnya adalah tahun kelahiran beliau 433 H, (hanya selesih setahun dengan keterangan murid abu Syuja` sendiri, Imam as-Silafy) sehingga usia umur beliau tepat 160 sehingga sama dengan keterangan yang disebutkan dalam Bujairimi dan Hasyiah Al-Bajuri. Wallu A`lam bish-Shawab.

Dalam Kitab Kasyfun Dhunun disebutkan tahun wafat beliau adalah 488 H tanpa disebutkan tahun kelahiran.[5] Sedangkan Imam Tajuddin as-Subky dalam kitab Thabaqat Syafi`iyyah Kubra memasukkan beliau dalam golongan para ulama yang wafat pada setelah tahun 500 H.

KH. Sirajuddin Abbas menanggapi perbedaan ini mengatakan; ada kemungkinan bahwa beliau menghilang dari negerinya Asfahan, Persia, pada tahun 488 H, sehingga orang mengatakan bahwa beliau telah meninggal. Orang tidak tahu bahwa beliau telah mengasingkan diri menjadi pelayan Masjid Madinah sampai wafatnya tahun 593 H.[6]

Para ahli sejarah menulis gelar beliau dengan Syihabuddin, hal ini sesuai dengan kebiasaan ahli sejarah yang memberi gelar Syihabuddin kepada para ulama yang bernama Ahmad dan gelar Syamsuddin kepada para ulama yang bernama Muhammad. Karena itu kita dapati para ahli sejarah menulis nama Imam Ramli Kabir dengan gelar Syihabuddin karena nama beliau adalah Ahmad dan menulis gelar Imam Ramli Shaghir dengan Syamsuddin karena nama beliau adalah Muhammad.[7]

Abu Suja' di kenal sebagai seorang imam ahli ibadah, shalih dan berilmu dan taat dalam agama. Beliau pernah menjabat sebagai qadhi dan kemudian menjadi menteri. Beliau menjabat menteri di umur 47 tahun, dimasa jabatannya tersebut beliau banyak menyematkan keadilan dan ilmu agama, beliau memiliki 10 pembantu yang berkeliling membagikan shadaqah kepada manusia. Masing-masing mereka membagikan 1.120 dinar yang akan di bagikan kepada orang yang berhak.

Kemudian beliau menempuh jalan zuhud meninggalkan kenikmatan duniawi, beliau hijrah ke Madinah dan menetap di Masjid Nabawi sebagai orang yang bertugas merapihkan tikar dan menyalakan lentera dan membersihkan Mesjid Nabawi serta menjadi pengkhadam Hujrah Rasulullah SAW. dan beliau jalankan tugas tersebut sampai akhir hayatnya.[8]

Beliau di karunia umur panjang hingga berusia 160 tahun dan dalam keadaan lanjut usi demikian, tidak ada satupun anggota badan beliau yang cedera. Orang – orang bertanya tentang sebab anggota badan beliau sehat hingga masa tua, beliau menjawabnya:

حفظنا ها فى الصغر فحفظها الله فى الكبر

Kami menjaganya (dari dosa) ketika masih muda maka Allah menjaganya ketika kami tua.
Beliau wafat dan dimakamkan di sebuah ruangan mushallah yang beliau bangun sendiri di dekat Masjid Nabawi di samping pintu Jibril.

Download lewat PC
Bagi pelajar fiqh Syafi'i, kitab al-Ghayah wa at-Taqrib atau yang lebih dikenal kitab Matan Taqrib merupakan kitab yang tidak asing lagi. Kitab ini menjadi kitab kurikulum bagi para pemula pelajar fiqh Syafi'i. Kitab ini merupakan kitab kecil yang lengkap mulai dari bab Thaharah hingga `itq. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama Syafi'iyah yang hidup pada abad ke-5 H.


Beliau adalah Ahmad bin al-Husen bin Ahmad al-Asfahaniy yang terkenal dengan panggilan al-Qadhi (Hakim) Abu Syuja'. Beliau juga mendapat gelari (kun-yah) Abu Thayyib. Beliau belajar fiqih Syafi'i di Basrah lebih dari 40 tahun.[1]

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun kelahiran dan wafat beliau. Salah seorang murid beliau Imam Ahmad bin Muhammad Abu Thahir as-Silafy (w. 576 H) dalam kitabnya Mu`jam Safar menuliskan bahwa beliau pernah menanyakan kepada Abu Syuja` sendiri tentang tahun kelahiran beliau, Abu Syuja` menjawab tahun 434 H di Basrah, sedangkan ayah beliau lahir di `Abbadan dan kakek beliau lahir di Asfihan/Isfahan (kota di Iran yang terletak sekitar 340 km dari ibu kota Iran, Taheran).[2] Keterangan tersebut juga dikutip oleh Imam Yaqut bin Abdullah al-Hamawi dalam kitab beliau Mu`jam Buldan ketika menerangkan tentang negeri `Abbadan.[3] Dalam kitab tersebut tidak disebutkan tahun wafat beliau.

Sedangkan dalam kitab A`lam karangan Zarkali disebutkan beliau lahir tahun 533 H/1138 M dan wafat pada tahun 593 H/1197 M,[4] maka umur beliau berdasarkan keterangan ini adalah hanya 60 tahun. Hal sangat bertentangan dengan keterangan dalam Kitab Hasyiah al-Bajuri dan Hasyiah Bujairimi `ala Khatib yang menerangkan bahwa beliau memiliki umur panjang hingga 160 tahun. Dan keterangan ini juga sangat menentang dengan keterangan murid beliau sendiri Imam as-Silafi dalam kitab Mu`jam Safr, dimana beliau menyebutkan bahwa Abu Syuja` sendiri pada tahun 500 H menyebutkan kepadanya bahwa beliau sudah mempelajari fiqih Mazhab Syafi'i selama 40 tahun lamanya, setelah itu Imam as-Silafi menyebutkan bahwa Abu Syuja` masih hidup hingga masa yang tidak beliau ketahui.

Ada kemungkinan bahwa keterangan kitab al-A`lam karangan Zarlaki yang dikutip banyak penerbit yang menuliskan biografi Abu Syuja` ketika menerbitkan kitab Matan Taqrib, terjadi kesalahan ketika penulisan, mungkin yang sebenarnya adalah tahun kelahiran beliau 433 H, (hanya selesih setahun dengan keterangan murid abu Syuja` sendiri, Imam as-Silafy) sehingga usia umur beliau tepat 160 sehingga sama dengan keterangan yang disebutkan dalam Bujairimi dan Hasyiah Al-Bajuri. Wallu A`lam bish-Shawab.

Dalam Kitab Kasyfun Dhunun disebutkan tahun wafat beliau adalah 488 H tanpa disebutkan tahun kelahiran.[5] Sedangkan Imam Tajuddin as-Subky dalam kitab Thabaqat Syafi`iyyah Kubra memasukkan beliau dalam golongan para ulama yang wafat pada setelah tahun 500 H.

KH. Sirajuddin Abbas menanggapi perbedaan ini mengatakan; ada kemungkinan bahwa beliau menghilang dari negerinya Asfahan, Persia, pada tahun 488 H, sehingga orang mengatakan bahwa beliau telah meninggal. Orang tidak tahu bahwa beliau telah mengasingkan diri menjadi pelayan Masjid Madinah sampai wafatnya tahun 593 H.[6]

Para ahli sejarah menulis gelar beliau dengan Syihabuddin, hal ini sesuai dengan kebiasaan ahli sejarah yang memberi gelar Syihabuddin kepada para ulama yang bernama Ahmad dan gelar Syamsuddin kepada para ulama yang bernama Muhammad. Karena itu kita dapati para ahli sejarah menulis nama Imam Ramli Kabir dengan gelar Syihabuddin karena nama beliau adalah Ahmad dan menulis gelar Imam Ramli Shaghir dengan Syamsuddin karena nama beliau adalah Muhammad.[7]

Abu Suja' di kenal sebagai seorang imam ahli ibadah, shalih dan berilmu dan taat dalam agama. Beliau pernah menjabat sebagai qadhi dan kemudian menjadi menteri. Beliau menjabat menteri di umur 47 tahun, dimasa jabatannya tersebut beliau banyak menyematkan keadilan dan ilmu agama, beliau memiliki 10 pembantu yang berkeliling membagikan shadaqah kepada manusia. Masing-masing mereka membagikan 1.120 dinar yang akan di bagikan kepada orang yang berhak.

Kemudian beliau menempuh jalan zuhud meninggalkan kenikmatan duniawi, beliau hijrah ke Madinah dan menetap di Masjid Nabawi sebagai orang yang bertugas merapihkan tikar dan menyalakan lentera dan membersihkan Mesjid Nabawi serta menjadi pengkhadam Hujrah Rasulullah SAW. dan beliau jalankan tugas tersebut sampai akhir hayatnya.[8]

Beliau di karunia umur panjang hingga berusia 160 tahun dan dalam keadaan lanjut usi demikian, tidak ada satupun anggota badan beliau yang cedera. Orang – orang bertanya tentang sebab anggota badan beliau sehat hingga masa tua, beliau menjawabnya:
حفظنا ها فى الصغر فحفظها الله فى الكبر
Kami menjaganya (dari dosa) ketika masih muda maka Allah menjaganya ketika kami tua.
Beliau wafat dan dimakamkan di sebuah ruangan mushallah yang beliau bangun sendiri di dekat Masjid Nabawi di samping pintu Jibril.
- See more at: http://babarusyda.blogspot.co.id/2013/11/biografi-qadhi-abu-syuja-as-syafiiy.html#sthash.TpBoHDbT.dpuf
Bagi pelajar fiqh Syafi'i, kitab al-Ghayah wa at-Taqrib atau yang lebih dikenal kitab Matan Taqrib merupakan kitab yang tidak asing lagi. Kitab ini menjadi kitab kurikulum bagi para pemula pelajar fiqh Syafi'i. Kitab ini merupakan kitab kecil yang lengkap mulai dari bab Thaharah hingga `itq. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama Syafi'iyah yang hidup pada abad ke-5 H.


Beliau adalah Ahmad bin al-Husen bin Ahmad al-Asfahaniy yang terkenal dengan panggilan al-Qadhi (Hakim) Abu Syuja'. Beliau juga mendapat gelari (kun-yah) Abu Thayyib. Beliau belajar fiqih Syafi'i di Basrah lebih dari 40 tahun.[1]

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun kelahiran dan wafat beliau. Salah seorang murid beliau Imam Ahmad bin Muhammad Abu Thahir as-Silafy (w. 576 H) dalam kitabnya Mu`jam Safar menuliskan bahwa beliau pernah menanyakan kepada Abu Syuja` sendiri tentang tahun kelahiran beliau, Abu Syuja` menjawab tahun 434 H di Basrah, sedangkan ayah beliau lahir di `Abbadan dan kakek beliau lahir di Asfihan/Isfahan (kota di Iran yang terletak sekitar 340 km dari ibu kota Iran, Taheran).[2] Keterangan tersebut juga dikutip oleh Imam Yaqut bin Abdullah al-Hamawi dalam kitab beliau Mu`jam Buldan ketika menerangkan tentang negeri `Abbadan.[3] Dalam kitab tersebut tidak disebutkan tahun wafat beliau.

Sedangkan dalam kitab A`lam karangan Zarkali disebutkan beliau lahir tahun 533 H/1138 M dan wafat pada tahun 593 H/1197 M,[4] maka umur beliau berdasarkan keterangan ini adalah hanya 60 tahun. Hal sangat bertentangan dengan keterangan dalam Kitab Hasyiah al-Bajuri dan Hasyiah Bujairimi `ala Khatib yang menerangkan bahwa beliau memiliki umur panjang hingga 160 tahun. Dan keterangan ini juga sangat menentang dengan keterangan murid beliau sendiri Imam as-Silafi dalam kitab Mu`jam Safr, dimana beliau menyebutkan bahwa Abu Syuja` sendiri pada tahun 500 H menyebutkan kepadanya bahwa beliau sudah mempelajari fiqih Mazhab Syafi'i selama 40 tahun lamanya, setelah itu Imam as-Silafi menyebutkan bahwa Abu Syuja` masih hidup hingga masa yang tidak beliau ketahui.

Ada kemungkinan bahwa keterangan kitab al-A`lam karangan Zarlaki yang dikutip banyak penerbit yang menuliskan biografi Abu Syuja` ketika menerbitkan kitab Matan Taqrib, terjadi kesalahan ketika penulisan, mungkin yang sebenarnya adalah tahun kelahiran beliau 433 H, (hanya selesih setahun dengan keterangan murid abu Syuja` sendiri, Imam as-Silafy) sehingga usia umur beliau tepat 160 sehingga sama dengan keterangan yang disebutkan dalam Bujairimi dan Hasyiah Al-Bajuri. Wallu A`lam bish-Shawab.

Dalam Kitab Kasyfun Dhunun disebutkan tahun wafat beliau adalah 488 H tanpa disebutkan tahun kelahiran.[5] Sedangkan Imam Tajuddin as-Subky dalam kitab Thabaqat Syafi`iyyah Kubra memasukkan beliau dalam golongan para ulama yang wafat pada setelah tahun 500 H.

KH. Sirajuddin Abbas menanggapi perbedaan ini mengatakan; ada kemungkinan bahwa beliau menghilang dari negerinya Asfahan, Persia, pada tahun 488 H, sehingga orang mengatakan bahwa beliau telah meninggal. Orang tidak tahu bahwa beliau telah mengasingkan diri menjadi pelayan Masjid Madinah sampai wafatnya tahun 593 H.[6]

Para ahli sejarah menulis gelar beliau dengan Syihabuddin, hal ini sesuai dengan kebiasaan ahli sejarah yang memberi gelar Syihabuddin kepada para ulama yang bernama Ahmad dan gelar Syamsuddin kepada para ulama yang bernama Muhammad. Karena itu kita dapati para ahli sejarah menulis nama Imam Ramli Kabir dengan gelar Syihabuddin karena nama beliau adalah Ahmad dan menulis gelar Imam Ramli Shaghir dengan Syamsuddin karena nama beliau adalah Muhammad.[7]

Abu Suja' di kenal sebagai seorang imam ahli ibadah, shalih dan berilmu dan taat dalam agama. Beliau pernah menjabat sebagai qadhi dan kemudian menjadi menteri. Beliau menjabat menteri di umur 47 tahun, dimasa jabatannya tersebut beliau banyak menyematkan keadilan dan ilmu agama, beliau memiliki 10 pembantu yang berkeliling membagikan shadaqah kepada manusia. Masing-masing mereka membagikan 1.120 dinar yang akan di bagikan kepada orang yang berhak.

Kemudian beliau menempuh jalan zuhud meninggalkan kenikmatan duniawi, beliau hijrah ke Madinah dan menetap di Masjid Nabawi sebagai orang yang bertugas merapihkan tikar dan menyalakan lentera dan membersihkan Mesjid Nabawi serta menjadi pengkhadam Hujrah Rasulullah SAW. dan beliau jalankan tugas tersebut sampai akhir hayatnya.[8]

Beliau di karunia umur panjang hingga berusia 160 tahun dan dalam keadaan lanjut usi demikian, tidak ada satupun anggota badan beliau yang cedera. Orang – orang bertanya tentang sebab anggota badan beliau sehat hingga masa tua, beliau menjawabnya:
حفظنا ها فى الصغر فحفظها الله فى الكبر
Kami menjaganya (dari dosa) ketika masih muda maka Allah menjaganya ketika kami tua.
Beliau wafat dan dimakamkan di sebuah ruangan mushallah yang beliau bangun sendiri di dekat Masjid Nabawi di samping pintu Jibril.
- See more at: http://babarusyda.blogspot.co.id/2013/11/biografi-qadhi-abu-syuja-as-syafiiy.html#sthash.TpBoHDbT.dpuf
Bagi pelajar fiqh Syafi'i, kitab al-Ghayah wa at-Taqrib atau yang lebih dikenal kitab Matan Taqrib merupakan kitab yang tidak asing lagi. Kitab ini menjadi kitab kurikulum bagi para pemula pelajar fiqh Syafi'i. Kitab ini merupakan kitab kecil yang lengkap mulai dari bab Thaharah hingga `itq. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama Syafi'iyah yang hidup pada abad ke-5 H.


Beliau adalah Ahmad bin al-Husen bin Ahmad al-Asfahaniy yang terkenal dengan panggilan al-Qadhi (Hakim) Abu Syuja'. Beliau juga mendapat gelari (kun-yah) Abu Thayyib. Beliau belajar fiqih Syafi'i di Basrah lebih dari 40 tahun.[1]

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun kelahiran dan wafat beliau. Salah seorang murid beliau Imam Ahmad bin Muhammad Abu Thahir as-Silafy (w. 576 H) dalam kitabnya Mu`jam Safar menuliskan bahwa beliau pernah menanyakan kepada Abu Syuja` sendiri tentang tahun kelahiran beliau, Abu Syuja` menjawab tahun 434 H di Basrah, sedangkan ayah beliau lahir di `Abbadan dan kakek beliau lahir di Asfihan/Isfahan (kota di Iran yang terletak sekitar 340 km dari ibu kota Iran, Taheran).[2] Keterangan tersebut juga dikutip oleh Imam Yaqut bin Abdullah al-Hamawi dalam kitab beliau Mu`jam Buldan ketika menerangkan tentang negeri `Abbadan.[3] Dalam kitab tersebut tidak disebutkan tahun wafat beliau.

Sedangkan dalam kitab A`lam karangan Zarkali disebutkan beliau lahir tahun 533 H/1138 M dan wafat pada tahun 593 H/1197 M,[4] maka umur beliau berdasarkan keterangan ini adalah hanya 60 tahun. Hal sangat bertentangan dengan keterangan dalam Kitab Hasyiah al-Bajuri dan Hasyiah Bujairimi `ala Khatib yang menerangkan bahwa beliau memiliki umur panjang hingga 160 tahun. Dan keterangan ini juga sangat menentang dengan keterangan murid beliau sendiri Imam as-Silafi dalam kitab Mu`jam Safr, dimana beliau menyebutkan bahwa Abu Syuja` sendiri pada tahun 500 H menyebutkan kepadanya bahwa beliau sudah mempelajari fiqih Mazhab Syafi'i selama 40 tahun lamanya, setelah itu Imam as-Silafi menyebutkan bahwa Abu Syuja` masih hidup hingga masa yang tidak beliau ketahui.

Ada kemungkinan bahwa keterangan kitab al-A`lam karangan Zarlaki yang dikutip banyak penerbit yang menuliskan biografi Abu Syuja` ketika menerbitkan kitab Matan Taqrib, terjadi kesalahan ketika penulisan, mungkin yang sebenarnya adalah tahun kelahiran beliau 433 H, (hanya selesih setahun dengan keterangan murid abu Syuja` sendiri, Imam as-Silafy) sehingga usia umur beliau tepat 160 sehingga sama dengan keterangan yang disebutkan dalam Bujairimi dan Hasyiah Al-Bajuri. Wallu A`lam bish-Shawab.

Dalam Kitab Kasyfun Dhunun disebutkan tahun wafat beliau adalah 488 H tanpa disebutkan tahun kelahiran.[5] Sedangkan Imam Tajuddin as-Subky dalam kitab Thabaqat Syafi`iyyah Kubra memasukkan beliau dalam golongan para ulama yang wafat pada setelah tahun 500 H.

KH. Sirajuddin Abbas menanggapi perbedaan ini mengatakan; ada kemungkinan bahwa beliau menghilang dari negerinya Asfahan, Persia, pada tahun 488 H, sehingga orang mengatakan bahwa beliau telah meninggal. Orang tidak tahu bahwa beliau telah mengasingkan diri menjadi pelayan Masjid Madinah sampai wafatnya tahun 593 H.[6]

Para ahli sejarah menulis gelar beliau dengan Syihabuddin, hal ini sesuai dengan kebiasaan ahli sejarah yang memberi gelar Syihabuddin kepada para ulama yang bernama Ahmad dan gelar Syamsuddin kepada para ulama yang bernama Muhammad. Karena itu kita dapati para ahli sejarah menulis nama Imam Ramli Kabir dengan gelar Syihabuddin karena nama beliau adalah Ahmad dan menulis gelar Imam Ramli Shaghir dengan Syamsuddin karena nama beliau adalah Muhammad.[7]

Abu Suja' di kenal sebagai seorang imam ahli ibadah, shalih dan berilmu dan taat dalam agama. Beliau pernah menjabat sebagai qadhi dan kemudian menjadi menteri. Beliau menjabat menteri di umur 47 tahun, dimasa jabatannya tersebut beliau banyak menyematkan keadilan dan ilmu agama, beliau memiliki 10 pembantu yang berkeliling membagikan shadaqah kepada manusia. Masing-masing mereka membagikan 1.120 dinar yang akan di bagikan kepada orang yang berhak.

Kemudian beliau menempuh jalan zuhud meninggalkan kenikmatan duniawi, beliau hijrah ke Madinah dan menetap di Masjid Nabawi sebagai orang yang bertugas merapihkan tikar dan menyalakan lentera dan membersihkan Mesjid Nabawi serta menjadi pengkhadam Hujrah Rasulullah SAW. dan beliau jalankan tugas tersebut sampai akhir hayatnya.[8]

Beliau di karunia umur panjang hingga berusia 160 tahun dan dalam keadaan lanjut usi demikian, tidak ada satupun anggota badan beliau yang cedera. Orang – orang bertanya tentang sebab anggota badan beliau sehat hingga masa tua, beliau menjawabnya:
حفظنا ها فى الصغر فحفظها الله فى الكبر
Kami menjaganya (dari dosa) ketika masih muda maka Allah menjaganya ketika kami tua.
Beliau wafat dan dimakamkan di sebuah ruangan mushallah yang beliau bangun sendiri di dekat Masjid Nabawi di samping pintu Jibril.
- See more at: http://babarusyda.blogspot.co.id/2013/11/biografi-qadhi-abu-syuja-as-syafiiy.html#sthash.TpBoHDbT.dpuf
Bagi pelajar fiqh Syafi'i, kitab al-Ghayah wa at-Taqrib atau yang lebih dikenal kitab Matan Taqrib merupakan kitab yang tidak asing lagi. Kitab ini menjadi kitab kurikulum bagi para pemula pelajar fiqh Syafi'i. Kitab ini merupakan kitab kecil yang lengkap mulai dari bab Thaharah hingga `itq. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama Syafi'iyah yang hidup pada abad ke-5 H.


Beliau adalah Ahmad bin al-Husen bin Ahmad al-Asfahaniy yang terkenal dengan panggilan al-Qadhi (Hakim) Abu Syuja'. Beliau juga mendapat gelari (kun-yah) Abu Thayyib. Beliau belajar fiqih Syafi'i di Basrah lebih dari 40 tahun.[1]

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun kelahiran dan wafat beliau. Salah seorang murid beliau Imam Ahmad bin Muhammad Abu Thahir as-Silafy (w. 576 H) dalam kitabnya Mu`jam Safar menuliskan bahwa beliau pernah menanyakan kepada Abu Syuja` sendiri tentang tahun kelahiran beliau, Abu Syuja` menjawab tahun 434 H di Basrah, sedangkan ayah beliau lahir di `Abbadan dan kakek beliau lahir di Asfihan/Isfahan (kota di Iran yang terletak sekitar 340 km dari ibu kota Iran, Taheran).[2] Keterangan tersebut juga dikutip oleh Imam Yaqut bin Abdullah al-Hamawi dalam kitab beliau Mu`jam Buldan ketika menerangkan tentang negeri `Abbadan.[3] Dalam kitab tersebut tidak disebutkan tahun wafat beliau.

Sedangkan dalam kitab A`lam karangan Zarkali disebutkan beliau lahir tahun 533 H/1138 M dan wafat pada tahun 593 H/1197 M,[4] maka umur beliau berdasarkan keterangan ini adalah hanya 60 tahun. Hal sangat bertentangan dengan keterangan dalam Kitab Hasyiah al-Bajuri dan Hasyiah Bujairimi `ala Khatib yang menerangkan bahwa beliau memiliki umur panjang hingga 160 tahun. Dan keterangan ini juga sangat menentang dengan keterangan murid beliau sendiri Imam as-Silafi dalam kitab Mu`jam Safr, dimana beliau menyebutkan bahwa Abu Syuja` sendiri pada tahun 500 H menyebutkan kepadanya bahwa beliau sudah mempelajari fiqih Mazhab Syafi'i selama 40 tahun lamanya, setelah itu Imam as-Silafi menyebutkan bahwa Abu Syuja` masih hidup hingga masa yang tidak beliau ketahui.

Ada kemungkinan bahwa keterangan kitab al-A`lam karangan Zarlaki yang dikutip banyak penerbit yang menuliskan biografi Abu Syuja` ketika menerbitkan kitab Matan Taqrib, terjadi kesalahan ketika penulisan, mungkin yang sebenarnya adalah tahun kelahiran beliau 433 H, (hanya selesih setahun dengan keterangan murid abu Syuja` sendiri, Imam as-Silafy) sehingga usia umur beliau tepat 160 sehingga sama dengan keterangan yang disebutkan dalam Bujairimi dan Hasyiah Al-Bajuri. Wallu A`lam bish-Shawab.

Dalam Kitab Kasyfun Dhunun disebutkan tahun wafat beliau adalah 488 H tanpa disebutkan tahun kelahiran.[5] Sedangkan Imam Tajuddin as-Subky dalam kitab Thabaqat Syafi`iyyah Kubra memasukkan beliau dalam golongan para ulama yang wafat pada setelah tahun 500 H.

KH. Sirajuddin Abbas menanggapi perbedaan ini mengatakan; ada kemungkinan bahwa beliau menghilang dari negerinya Asfahan, Persia, pada tahun 488 H, sehingga orang mengatakan bahwa beliau telah meninggal. Orang tidak tahu bahwa beliau telah mengasingkan diri menjadi pelayan Masjid Madinah sampai wafatnya tahun 593 H.[6]

Para ahli sejarah menulis gelar beliau dengan Syihabuddin, hal ini sesuai dengan kebiasaan ahli sejarah yang memberi gelar Syihabuddin kepada para ulama yang bernama Ahmad dan gelar Syamsuddin kepada para ulama yang bernama Muhammad. Karena itu kita dapati para ahli sejarah menulis nama Imam Ramli Kabir dengan gelar Syihabuddin karena nama beliau adalah Ahmad dan menulis gelar Imam Ramli Shaghir dengan Syamsuddin karena nama beliau adalah Muhammad.[7]

Abu Suja' di kenal sebagai seorang imam ahli ibadah, shalih dan berilmu dan taat dalam agama. Beliau pernah menjabat sebagai qadhi dan kemudian menjadi menteri. Beliau menjabat menteri di umur 47 tahun, dimasa jabatannya tersebut beliau banyak menyematkan keadilan dan ilmu agama, beliau memiliki 10 pembantu yang berkeliling membagikan shadaqah kepada manusia. Masing-masing mereka membagikan 1.120 dinar yang akan di bagikan kepada orang yang berhak.

Kemudian beliau menempuh jalan zuhud meninggalkan kenikmatan duniawi, beliau hijrah ke Madinah dan menetap di Masjid Nabawi sebagai orang yang bertugas merapihkan tikar dan menyalakan lentera dan membersihkan Mesjid Nabawi serta menjadi pengkhadam Hujrah Rasulullah SAW. dan beliau jalankan tugas tersebut sampai akhir hayatnya.[8]

Beliau di karunia umur panjang hingga berusia 160 tahun dan dalam keadaan lanjut usi demikian, tidak ada satupun anggota badan beliau yang cedera. Orang – orang bertanya tentang sebab anggota badan beliau sehat hingga masa tua, beliau menjawabnya:
حفظنا ها فى الصغر فحفظها الله فى الكبر
Kami menjaganya (dari dosa) ketika masih muda maka Allah menjaganya ketika kami tua.
Beliau wafat dan dimakamkan di sebuah ruangan mushallah yang beliau bangun sendiri di dekat Masjid Nabawi di samping pintu Jibril.
- See more at: http://babarusyda.blogspot.co.id/2013/11/biografi-qadhi-abu-syuja-as-syafiiy.html#sthash.TpBoHDbT.dpuf
Back To Top